Health

Mitokondria: Kunci Energi Tubuh yang Dipengaruhi Gaya Hidup Sehat

Jakarta (KABARIN) - Pernah dengar istilah mitokondria waktu pelajaran biologi? Bagian kecil di dalam sel ini ternyata punya peran besar buat tubuh. Mitokondria dikenal sebagai pembangkit energi sel karena bertugas mengubah nutrisi dari makanan menjadi adenosin trifosfat (ATP), yaitu sumber energi utama yang digunakan sel untuk bekerja.

Mitokondria hampir ada di semua sel eukariotik dan tidak cuma berfungsi menghasilkan energi. Ditulis laman Channel News Asia, Minggu (1/3), para ahli menjelaskan bahwa mitokondria juga mendukung sistem kekebalan tubuh, menghasilkan peptida sebagai pengirim pesan antar organ, hingga berperan penting dalam pemeliharaan sel secara keseluruhan.

Dekan Sekolah Gerontologi Leonard Davis Universitas Southern California, Dr. Pinchas Cohen, mengatakan kondisi mitokondria berkaitan erat dengan proses penuaan dan berbagai penyakit serius.

“Mitokondria lebih cepat rusak dibandingkan bagian sel lainnya karena keausan yang dialaminya,” kata Dr. Cohen.

Menurutnya, penurunan kesehatan mitokondria dapat memicu sejumlah penyakit yang sering muncul seiring bertambahnya usia, seperti Alzheimer hingga kanker.

Namun, tidak semua ilmuwan sepakat bahwa mitokondria adalah penyebab utama penuaan. Dr. Vamsi Mootha, profesor biologi sistem di Harvard Medical School, berpendapat bahwa gangguan mitokondria mungkin justru merupakan akibat dari penuaan dan penyakit, bukan pemicunya.

Meski begitu, para ahli sepakat satu hal: gaya hidup punya pengaruh besar terhadap kesehatan mitokondria.

Salah satu faktor paling kuat adalah olahraga. Penelitian menunjukkan aktivitas fisik secara konsisten mampu meningkatkan fungsi mitokondria. Dalam sebuah studi, peneliti mengambil biopsi otot paha peserta dan menemukan jumlah mitokondria yang lebih banyak serta lebih sehat setelah mengikuti program latihan selama delapan minggu.

Latihan daya tahan maupun latihan kekuatan sama-sama efektif. Bahkan, kombinasi keduanya disebut memberikan manfaat paling optimal bagi tubuh.

Profesor biologi kimia dan sistem di Universitas Stanford sekaligus penulis buku, Daria Mochly-Rosen, menjelaskan bahwa olahraga sebenarnya memberikan “stres kecil” pada mitokondria yang justru membuatnya makin kuat.

“Jadi dengan berolahraga, Anda sebenarnya memberi tahu seluruh tubuh, oke, saatnya untuk mengisi kembali mitokondria Anda dan membuatnya lebih prima dengan membuat bagian-bagian baru untuknya,” kata Dr. Mochly-Rosen.

Selain olahraga, pola makan juga berperan penting. Para ahli menyarankan konsumsi karbohidrat kaya serat dan lemak dari sumber berkualitas tinggi. Mitokondria secara alami berganti menggunakan glukosa dari karbohidrat dan asam lemak sebagai bahan bakar energi.

Contoh makanan yang direkomendasikan antara lain kacang-kacangan, biji-bijian utuh, alpukat, dan ikan.

Dr. Mochly-Rosen menambahkan bahwa mikronutrien seperti vitamin B dan antioksidan juga penting, tetapi tetap harus diperoleh melalui pola makan seimbang, bukan hanya bergantung pada suplemen.

Faktor lain yang sering diremehkan adalah tidur. Waktu istirahat ideal sekitar tujuh hingga delapan jam per malam membantu proses “pembersihan” mitokondria. Saat tidur, bagian mitokondria yang rusak sepanjang hari akan diperbaiki atau dibuang.

Sementara itu, metode seperti paparan suhu dingin dan panas, misalnya rendaman es atau sauna, serta terapi cahaya merah memang sering dipromosikan baik untuk mitokondria. Namun, para ahli mengingatkan bahwa sebagian besar penelitian masih dilakukan pada hewan atau sel laboratorium, sehingga manfaatnya bagi manusia masih perlu dibuktikan lebih lanjut.

Intinya, menjaga kesehatan mitokondria tidak membutuhkan cara ekstrem. Olahraga rutin, makan seimbang, dan tidur cukup tetap menjadi kunci utama agar “pembangkit energi” tubuh ini bekerja maksimal.

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: